Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Data Pribadi

Di smartphone—ada puluhan kalimat yang kita ketik setiap hari, ada ratusan kata yang kita sentuh setiap hurufnya pada papan tombol. Puluhan hingga ratusan umpatan pernah keluar dari tangan kita. Ada makian yang terlontar, kata-kata emosional dan keluhan yang saban hari kita ketik dengan sengaja, kata-kata yang menyakiti seseorang di kejauhan.

Lalu saya berpikir, bagaimana jika di masa depan ada seseorang yang mungil datang kepada saya; polos wajahnya, umurnya bisa dihitung dengan jari, dan matanya yang berbinar. Dia datang lalu bertanya, “Ayah, kata ini artinya apa?” atau “Ayah, kenapa menulis seperti ini di internet?”

Pernahkah kamu berpikir, bahwa tidak ada data yang benar-benar bisa dihapus?

Apa yang akan kamu lakukan jika memang ini semua sudah terjadi. Jejak digital terekam jelas di media, belum lagi terekam dari media pihak ketiga yang ikut merekam jejak kita, belum lagi ada mode fitur tangkapan layar yang dengan mudahnya bisa merekam semua aktivitas yang pernah kita kabarkan di berbagai media sosial, kemudian dibagikan lagi, lagi, dan lagi. Ada beberapa duplikat yang menyimpan baik rekam jejak kita.

Beruntunglah jika jejak Anda berisi kabar-kabar baik dan aktivitas yang positif. Bagaimana jika semua rekam jejak itu berisi umpatan-umpatan, makian, keluhan saban hari tanpa henti, dan kembali lagi kepada ketakutan awal—jika semua itu akan dilihat dan ditagih pertanyaan oleh orang-orang terdekat kita?

Bisa kita akui jika semua orang tak pernah luput untuk keinginan mengumpat. Saya pernah dan sering mengumpat perkara negara tidak melakukan fungsinya dengan baik, atau Trump juga pernah, BTP juga pernah, Rizieq juga pernah, atau mungkin Anda lebih sering mengumpat terkait perkara-perkara yang remeh?

Pola

Hampir-hampir tidak ada sekat antara smartphone dan kita; maksud saya, kita adalah segala yang tercermin di smartphone kita, dan smartphone kita adalah diri kita sesungguhnya. Saya uraikan dengan lebih sederhana: sebab ada data pribadi kita di situ!

Dimulai dari nama Anda, lokasi di mana Anda berada, tempat tinggal Anda, tempat kerja, ada data nama teman-teman, nomor kontak, galeri foto berisi wajah dan keluarga, video, surat elektronik, segala percakapan Anda di pesan, segala pita rekaman yang tersimpan baik di memori. Belum lagi ketika kita bicara tentang data yang ada di komputasi awan.

Lebih menakutkan lagi, smartphone tahu apa yang pernah kamu cari di internet, tahu apa yang kamu percakapkan, apa yang kamu inginkan di aplikasi belanja daring, fobia terhadap apa saja dirimu dan bagaimana cara mengatasinya, kapan kamu mencari solusi untuk sebuah penyakit, mereka tahu kamu pernah traveling di mana saja, memesan makanan apa saja, kamu doyan dan tidak doyan terhadap makanan apa saja, seberapa kuat ketahanan keuanganmu untuk membayar. Bayangkan, semua ini terekam dengan begitu mudahnya yang dikerjakan oleh machine learning! 

Setelah “mereka” tahu betul apa yang kamu ketik, cari, cakapkan di internet. Selanjutnya adalah data itu akan membentuk sebuah pola seperti apa dirimu; mesin telah mengerti dan memprediksi bagaimana kepribadianmu. Selanjutnya lagi adalah pertanyaan menakutkan lagi, berapa persen sih kemungkinan sebuah sistem melakukan kesalahan? Berapa persen kemungkinan sistem bisa dibohongi? Berapa persen kemungkinan sistem tidak tahu tentang siapa dirimu?

Semua memiliki jawaban yang sama: nol koma nol sekian.

Saya harus mengatakan ini meski nantinya Anda tidak suka terhadap faktanya, bahwa tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini.

Jika Anda menggunakan sebuah platform secara gratis, bahwa itu sesungguhnya tidak benar-benar gratis, bahwa itu sesungguhnya bukan Anda yang membayar. Sebab, Andalah yang sedang dijual.

Hasil dari Menambang

Jika kalian pernah menemui sebuah iklan di timeline-instastory Instagram misalnya, dengan memunculkan sebuah produk sepatu, ataukah itu mobil keluaran terbaru, atau sebuah villa mewah di Bali. Itu bukan secara tidak sengaja pihak Instagram memunculkan itu, tapi ini adalah hasil dari data-data yang sengaja dikumpul dari kepribadian kamu dan hasilnya juga untuk kamu sendiri. Dan mesinlah yang mengerjakan itu semua, dan sekali lagi, hingga hanya ada kemungkinan kecil hasilnya tidak akurat.

Jenis model iklan hasil mencuri “menambang data pribadi” inilah yang terbilang cukup efektif. Di mana ada seseorang pertama, kemudian seseorang kedua, kemudian seseorang ketiga; mereka akan menikmati iklan yang berbeda-beda di setiap timeline, meski menggunakan aplikasi yang sama yaitu Instagram.

Sebab memang benar, setiap seseorang akan membentuk sebuah pola dan kepribadian yang berbeda dengan seseorang yang lain. Mereka mengetik, berbicara di microphone, mencari sesuatu di google, yang setiap individunya memiliki kepentingan yang berbeda. Tapi nasib mereka—juga kita—adalah sama: data kita berhasil ter/dicuri. Dan kita tidak bisa lagi protes ketika sudah terjadi kesepakatan di awal untuk menandatangani term and conditions.

Google tahu apa yang pernah kita simpan. Mereka mengarsipkan data-data apa saja yang pernah kita buka, cari, telusuri, lihat, suka dan tidak suka. Mereka menyimpan itu semua. Dari hal yang bahagia, duka, hingga aib—secara terbuka. Foto-foto beberapa tahun silam. Tersimpan rapi di arsip data.

Anda tidak percaya? Sila buka: https://www.google.com/takeout

Ini hanya kisah kecil dari sebuah iceberg. Lebih dari itu, Google juga tahu di mana Anda sekarang dan berapa lama Anda di sana. Google tahu segalanya.

Sebetulnya saya ingin memberitahu Anda tentang banyak hal yang lebih gila, tapi sementara ini saja sudah cukup. 

Tanpa Batas

Satu hal yang paling saya takutkan adalah ketika tidak adanya batasan privasi di masa depan. Di mana orang-orang bisa melihat pola kepribadian orang lain dengan mudah. Orang yang satu bisa menafsirkan orang lain bahwa orang ini adalah cerdas, rajin, suka membagi hal positif untuk semua orang; atau menafsirkan orang ini pemalas, suka mengeluh, tidak ada kerjaan lain selain memaki rekan kerja, atasan, dan perusahaan di mana tempat mereka dihidupi.

Bagaimana nasibmu jika atasan, konsumen, klien, rekan kerja, pesaing bisnis, bisa menembus semua data pribadimu?

Saya hanya bisa berpesan, gunakan internet sebaik mungkin.

Didi Kempot Adalah Kita, Kita Adalah Didi Kempot!



Saya sepakat bahwa nyanyian dari seorang Didi Kempot, telah melebihi kesedihan puisi-puisi Pablo Neruda, atau melebihi kesedihan novel-novel milik Murakami. Atau juga posisi beliau sebagai musisi, saya juga sepakat, ia layak disandingkan dengan Frank Sinatra atau John Denver atau siapapun dalam barisan musisi-musisi terbaik di dunia.

Ia, Mas Didi, tidak kalah epik dan visioner ketika lebih tahu bicara perihal hati-hati yang diblenjani janji; sebab ia adalah pengalaman pahit itu sendiri. Atau dalam ejaan Oldspeak, orang-orang peradaban lama menyebutnya: Legendaris.

Ingatan saya tidak akan pernah luput bahwa Gesang, Waldjinah, dan Didi Kempot adalah orang-orang legendaris itu sendiri. Jika kita beri microphone, mereka adalah ahlinya. Mereka ahli bicara perihal ingatan dan kenangan.

Dan mereka layak diingat dan dikenang kembali oleh kita lagi. Dan lagi. Dan seterusnya—

Dari lagu-lagu para maestro inilah membuat tempat yang kita tinggali ini menjadi lebih baik, dengan cara memutarnya dalam piringan hitam—atau jika ingin lebih ringkas, memutarnya dengan jaringan nirkabel—barulah kita bisa menyelami tentang ingatan-ingatan lama; ingatan usang; ingatan yang mengembalikan kita dalam dunia yang (dulunya) baik-baik saja.

Ketika dunia dipenuhi orang-orang inkonsisten, Didi Kempot adalah lambang ketangguhan. Ia tidak berhenti. Ia tidak bubar. Ia tidak merubah aroma khas dari musik dia sendiri. Ia masih seperti dulu. Ia mampu cara bertahan. Ia adalah panutan.

Didi Kempot adalah kita—atau diri kita yang lain. Suara-suara patah hati yang terwakili.

Lailatul Qadar


Ada barang berharga yang terus menerus berjalan dan tak pernah bisa didaur ulang. Atau orang-orang seperti kita sering menyebutnya: waktu.

Di masjid dan musala dekat kita, para juru khotbah masih memutar kaset yang sama: perihal Lailatur Qadar, satu malam yang konon lebih baik daripada masa malam seribu bulan. Yang perlu digarisbawahi: jauh di sana, orang-orang yang bukan seberuntung kita, mesti menjadi penggerak layaknya roda gigi untuk memutar turbin-turbin dan mesin perkakas.

Para sopir truk mesti bekerja hanya untuk memastikan pasokan bahan bakar kendaraan kita aman, petugas palang kereta rela tak pulang untuk memastikan kita semua selamat, petugas medis bekerja tanpa libur untuk sebuah dedikasi kemanusiaan, pedagang asongan mesti mencari lapak di tempat ramai demi memastikan anaknya bisa memakai baju baru seperti kebanyakan anak-anak lainnya.

Apakah mereka mendapat Lailatul Qadar layaknya orang-orang di belahan bumi lainnya? Wallahu a'lam.

Bisakah kita berhenti kelahi dan menghakimi orang lain akan hal-hal yang tak perlu? Bisakah kita benar-benar berpuasa dan berhenti memberi makan ego kita sendiri?

Dan bisakah kita menjadi manusia untuk umat manusia lainnya, meski sebentar saja?

Catatan dan Pertanyaan: Apa yang Sebenarnya Terjadi?


Serangkaian peristiwa kejadian pra-pasca 22 Mei di tulisan ini tidak runtut. Saya berusaha menulisnya sebaik mungkin dari dua sisi. Dan berharap pihak mana pun yang memiliki fanatisme berlebih, untuk tidak melanjutkan membaca ini. Tabik.

***

1. Saya tidak benar-benar yakin, seluruh peristiwa bisa kita salahkan kepada pendukung Prabowo Subianto. Siang hari, demo berlangsung damai. Bahkan beredar video seorang ibu-ibu berjilbab berpakaian hitam dan putih, tengah memberi bunga kepada orang-orang di sekitar. Sayangnya, video ini kalah tenar dengan video petasan, pelemparan batu, dan perkelahian lain; kalah menarik.

2. Banyak pihak bersaksi, demonstran malam hari adalah pihak yang beda pada demonstran damai di siang hari. Ada provokasi dari seberang polisi. Kericuhan dimulai. Siapa mereka? Provokator? Tentu. Apakah pendukung Prabowo? Bisa iya, bisa tidak.

3. Seberapa yakin? Mari pertaruhkan uang Anda yang ada di kantong. Musuh Jokowi bukan Prabowo seorang. Letupan ini hanya puncak dari kebencian dan bisul yang akhirnya pecah pada waktunya. Siapa mereka? Jawaban saya: kepentingan.

4. Pertanyaan penting: Apa yang memicu (semua, bukan hanya malam hari) letupan ini? Apa yang mereka tuntut?

5. Dalam waktu yang tak selisih jauh, di linimasa, buzzer memiliki narasi yang mirip: diskualifikasi Jokowi, pemilu curang, rakyat ingin Jokowi mundur. Jawaban: menggelikan.

6. Kenapa mereka selalu mengemukakan narasi yang menjijikkan? Rakyat, rakyat, rakyat. Apakah mereka tidak sadar, menyentuh angka 50% saja tidak. Kenapa sulit sekali bahwa tuntutan itu datang murni dari sebagian pendukungnya sendiri?

7. Dan apakah melempar batu, botol, petasan, kelereng daya ketapel, akan mengubah keadaan? Kenapa tidak susah payah membantu teman-teman saksi di daerah yang merasa ada kecurangan? Kenapa lebih sibuk mengeluarkan opini ngawur bahwa KPU, Bawaslu, dan media adalah corong penguasa? Lantas siapa yang akan Anda percaya? Halo, waktu terus berjalan dan tidak bisa diulang, Tuan Jenderal.

8. Jahanam betul. Pihak yang membawa-bawa sebutan people power, tidak memberikan pernyataan dingin. Alih-alih meredam ego, polisi saja disandingkan dengan PKI melawan Umat. Kurang bodoh apa lagi orang satu ini?

9. Pernyataan itu bisa dipatahkan dengan pertanyaan mudah. Apakah ketika polisi "menggebuk" demonstran yang rusuh akan ditanya dahulu: assalamualaikum, demonstran, apakah Anda umat itu?

10. Siapa pun yang merusak fasilitas publik, menjarah isi warung orang lain, membakar barang dan merugikan warga yang tidak tahu apa-apa. Memang selayaknya kepalanya dibenturkan dengan palang kereta.

11. Sekarang mari luangkan keresahan kita: Siapa yang tidak sebal saat ini? Bayangkan saja, yang berambisi berkuasa dua-lima orang. Yang rusuh hanya sebagian kecil; merasa jago mewakili rakyat padahal menyentuh angka 50% saja tidak (pernah) bisa. Siapa yang kena dampak sekarang? Jaringan komunikasi-sektor ekonomi seluruh Indonesia. Konyolnya bukan main.

12. Hanya karena Wiranto dan Rudiantara membatasi akses media sosial. Mungkin relevan atas dibarengi panasnya tensi politik. Lantas, dibatasi yang (sebelumnya) tanpa kabar dibukanya kapan? Di sini kita sepakat: dua kubu ternyata sama-sama menjengkelkan.

13. Kenapa akses perlu dibatasi?

14. Narasi pertama yang muncul: supaya kabar bohong dan provokasi untuk menambah massa tidak tersebar begitu masif. Betul. Narasi kedua: supaya tindakan represi polisi—atau justru dari pengacau itu sendiri?—lewat video tidak tersebar. Betul. Semua opini bisa ditampung, tinggal bagaimana cara membuat bumbu yang enak bagi masakan dan membuat masakan lain menjadi tidak sedap di mata.

15. Apakah kita bisa menyalahkan sepenuhnya kepada polisi? Saya sepakat jika kejadian brutal polisi mengeroyok pemuda di sekitar Masjid Kampung Bali bisa disalahkan.

16. Mari kita memandang dari nalar pihak polisi: Bagaimana jika pemuda yang mengumpulkan batu ini digunakan untuk provokasi di titik yang sudah damai? Bagaimana kalau pemuda ini mengumpulkan batu untuk dilemparkan kembali ke demonstran untuk bisa menyalahkan polisi? Bagaimana jika batu itu digunakan untuk merusak fasilitas orang—seperti kaca-kaca gedung, kaca mobil, dan lain hal? Toh, semua spekulasi sama benarnya.

17. Tidak semua polisi jahat. Dan tidak semua polisi baik. Pun para demonstran. Ada porsi masing-masing.

18. Bagaimana dengan narasi yang sulit masuk diakal seperti: ada seorang yang meninggal ditembus peluru tajam?

19. Ini yang membuat kita putar otak. Pertama, polisi berdalih tidak dibekali peluru tajam. Kedua, keluarga ingin polisi dan Jokowi bertanggung jawab. Ketiga, polisi menemukan pihak yang menyelundupkan senjata di aksi massa. Keempat, keluarga tidak ingin diotopsi. Kelima, kita tidak akan tahu kebenaran dan hanya akan melahirkan dendam.

20. Sebenarnya siapa yang mengendalikan narasi di atas?

21. Perang masih berjalan. Tik-Tok, Mr Wick.

Musik, Ambiguitas, dan Ingatan Kolektif

1.
Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang seperti Frank Sinatra, Eric Clapton, John Denver, Lennon, Diana Ross; atau grup musik seperti The Beatles, Oasis, GNR, Air Supply—hingga orang-orang di belahan dunia lain mencintai mereka; mencintai segenap musik mereka.

2.
Ingatan akan bekerja sebagai mana mestinya: lupa menaruh kunci, lupa mematikan perangkat, lupa terhadap agenda harian atau jadwal teman atau jadwal makan yang rutin.

3.
Kata seorang psikoanalis terkemuka bernama Sigmund Freud, pernah mengemukakan: “Neurosis adalah ketidakmampuan untuk mentolerir ambiguitas.”

4.
Manusia memiliki daya tahan berbeda. Memang, tidak semua bisa dipukul rata. Pertama, ada yang pernah menangis hanya karena mendengarkan musik—meski musik itu selembut milik Beethoven atau Mozart. Kedua, musik bisa menjadi penenang dari rasa neurosis. Ketiga, musik bisa juga menjadi penyelam yang baik bagi ingatan-ingatan masa lampau.

5.
Tidak semua orang akan merasa baik setelah mendengarkan musik. Konsensus bisa terjadi, masih banyak orang yang akan merasa buruk jika mengingat satu musik yang memiliki satu paket dengan satu peristiwa tunggal.

6.
Memori kembali bekerja. Bukan tentang kunci-kunci yang hilang, lupa menaruh perangkat. Tapi ingatan bekerja seperti kunci putar pada brankas; jika satu jarum bertemu dengan satu jarum lainnya, maka brankas akan terbuka. Apakah musik dan peristiwa seperti itu? Iya.

7.
“Musik adalah hukum moral.” — Plato

8.
Musik dan peristiwa bisa membuat kita baik, tapi juga membuka kita membuka tentang memorial-memorial lama. Dan ini bukan kabar baik bagi kita; bagi air mata Anda.

Kalah

“Kadang-kadang, kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang,” kata Aan Mansyur suatu kali dalam bukunya Tidak Ada New York Hari Ini.

Kataku, kadang-kadang, melupakan sama beratnya dengan meluapkan apa yang ada dalam dirimu. Seseorang, entah siapa, terlanjut membuat penjara bagi dirinya sendiri di hidup orang lain. Tak ada yang menyelamatkanmu, mungkin—

Kau, atau mungkin aku, atau mungkin segala hal yang ada kita. Bagaimana mengingat kedalaman tentang dirimu; tentang bagaimana menikmati kopi terbaik, bagaimana membangun tawa bersama di suatu pagi, bagaimana malammu yang tak lagi gelap gulita, atau cerita-cerita yang tak akan pernah habisnya.

Kau, selalu bisa mengingat setiap jalan-jalan yang mengantarkanmu ke sana. Gedung-gedung yang tinggi, kelokan yang tajam, gang-gang sempit yang kadang kau lupa begitu saja. Kau terlalu bodoh untuk mengingat setiap tempat, tapi dengan segala kehendak, kau selalu bisa menuju ke sana—kota-kota yang dibangun dari rentetan debu, api, bising, dan kemacetan.

Kau, tak akan pernah bisa menghitung berapa lelah setelah berapa langkah yang kau hitung dari satu tempat ke tempat lain, satu tawa ke tawa lain, satu bukit ke bukit lain. Kau, tak akan bisa menghitung berapa jeri payah yang memaksamu untuk berhujan-hujan dari satu kota ke kota lain demi melihat sebuah pertandingan, aku dari sudut yang tak kau tahu, aku ada di situ untuk melihatmu. Dan ya, selamat, ternyata kau menang

—dari aku yang kalah.

Dan jika kelak, entah siapa yang membuat air matamu berjatuhan dan kita telah berjauhan. Aku, satu-satunya orang yang akan berjanji, membuatmu tertawa—dari jarak yang tak pernah kita ketahui.


Maret 2019

Mbak Susi, Smaga, dan Rantai Solidaritas

Kira-kira masih jam delapan pagi. Kelas-kelas tertutup rapat karena memang masih ada pelajaran di dalamnya. Kecuali saya—yang sedang di luar kelas. Saya berjalan di antara lorong-lorong kelas. Sendiri. Hanya bermodal hp dan dompet.

“Mbak, es good-day dua! Nasi ayam satu!” kata saya kepada seorang ibu yang bertubuh gempal itu. Kira-kira umurnya jauh di atas 40 tahunan. Dia selalu ramah kepada pembeli. Namanya Mbak Susi. Salah satu pemilik kantin di sekolah.

“Siap, Bos!” katanya. Semangat sekali beliau. Kalau saya ingat, seumur-umur sekolah di situ, saya tidak pernah melihat beliau cemberut, marah, apalagi nangis.

“Kok udah keluar, Mas?” tanyanya sambil mengantarkan makan dan minum di meja saya.

“Lagi laper, Mbak,” kata saya sekenanya. Saya tidak cerita, kalau saya baru saja dikeluarkan gara-gara ribut terus di kelas. Apalagi itu pelajaran sejarah. Pedih memang jika disuruh pergi saat kita lagi sayang-sayangnya.

***

Ingatan sederhana itu muncul, justru ketika saya tidak sedang di sekolah; tempat yang pernah membesarkan nama saya. Jauh dari tempat itu, tepatnya di Semarang. Saya malah rindu. Mulai dari lapangan upacara, aula, parkiran, kamar mandi, kantor BP, hingga Mbak Susi.

Jika memang dari kita pernah menjadi bagian terpenting dari SMA 3 Boyolali, mustahil jika tidak mengenal Mbak Susi. Beliau bersama keluarga—seorang suami dan empat anak—lebih dari 25 tahun tinggal dan tumbuh “di dalam” lingkungan sekolah.

Ingatan itu muncul, ketika saya (mungkin kita) pernah menjadi saksi bahwa ada rumah petak mungil. Tepatnya di sebuah ruang teramat cukup di area belakang sekolah. Sangat prihatin memang jika membayangkan memiliki halaman rumah yang sekaligus menjadi lahan parkir siswa. Sangat prihatin lagi, jika membayangkan ketika teman-teman yang lain merindukan rumah dan pulang, tapi putra atau putri Mbak Susi, tidak pernah pulang karena rumah mereka masih dalam lingkup SMA—sekolah mereka abadi, pelajaran hidup yang membuat keluarga mereka tumbuh-besar, jatuh-bangun, hidup-mati, bersama sekolah sekaligus rumah itu.

Ingatan itu muncul sangat kaget, ketika membaca dan mendengar kabar, jika keluarga Mbak Susi sudah waktunya pindah dari ruang lingkup sekolah. Alasannya sederhana: suaminya Mbak Susi yang bernama Pak Pambudi, yang memiliki profesi sebagai penjaga kebersihan di sekolah itu, tidak bisa lagi menjadi bagian dari sekolah. Katakanlah, purna-tugas. Atau bisa dikatakan juga, selesai kontraknya.

Pokok permasalahannya bukanlah protes kepada sekolah. Justru ketika sekolah dan komitenya, masih memberi ruang hidup bagi keluarga Mbak Susi selama bertahun-tahun, itu adalah sebuah apresiasi yang luar biasa. Bisa dilihat bagaimana keluarga Mbak Susi berhutangbudi terhadap sekolah, begitu pun sekolah juga sangat berhutangbudi terhadap keluarga Mbak Susi. Hingga puluhan tahun diberi ruang. Kok bisa selama itu!

Yang mesti dipikirkan adalah bagaimana nasib tahun-tahun ke depan yang mesti dipikul keluarga Mbak Susi. Keluarga itu nyaris menjadi saksi primordial yang utuh bagaimana sekolah itu melewati linier waktu. Keluarga itu adalah bagian-bagian entitas manunggal yang pernah beriringan menembus masa satu ke masa lain.

Analoginya adalah ketika ada sebuah manusia yang utuh dan sempurna. Ia telah melewati suatu waktu berpuluh-puluh tahun. Ia jatuh-bangkit, runtuh-berdiri, hidup-mati, tangis-bahagia, bersama dengan kelengkapan manusianya: mulai dari mata, tangan, kaki, dan sebagainya. Kata seorang Dokter, ada kaki yang harus diamputasi karena memiliki penyakit. Katanya lagi, akan ada kaki baru yang akan dipasangkan dan lebih canggih lagi. Katanya yang terakhir, kaki itu akan sama.

Mungkin akan terlihat sama. Tapi percayalah, itu tidak sama.

Saya dan mungkin Anda, yang pernah menjadi bagian keluarga besar sekolah. Sekarang telah pecah menjadi mikrokosmos yang lain. Pecah lagi menuju penjuru negeri yang pelosok sekalipun. Sebenarnya kita tidak pernah pecah. Kita adalah bagian terkecil yang terus melebar menjadi keluarga besar. Tiap tahun datang keluarga baru. Tiap tahun akan ada yang lulus dan keluar. Menjadi besar dan tumbuh. Menjadi dewasa dan sukses. Bahkan bisa kita bayangkan sendiri bagaimana digdayanya rantai solidaritas itu jika bersatu dan menyatu sama lain, untuk membantu sebuah kebaikan yang lain.

Kita bisa saja mengaku bukan lagi bagian dari sekolah yang dulu. Tapi percayalah, segala ingatan kita masih tertinggal di tempat yang bernama sekolah itu. Dari segala kemenangan hingga kekalahan, dari kebaikan hingga kebusukan, kita nyaris hafal. Mungkin tentang guru, mungkin tentang teman, mungkin tentang Mbak Susi—keluarga kita yang lain atau bagian tubuh kita yang lain, yang sekarang ini memang harus kita rawat.

Mungkin Mbak Susi tidak tahu atau tidak akan mengingat nama kita lagi atau lupa. Tapi suka atau tidak, senang atau benci. Dia adalah keluarga kita yang lain. Mungkin juga ibu kita yang lain—yang nasinya pernah membuat kita tumbuh di sana. Kebaikan itu tidak akan pernah dilupakan bagi siapa saja, termasuk saya.

Bahkan saya sangat berharap sekali, Tuhan dengan segala kekuasaan, akan memberikan tempat yang jauh lebih layak dari sekarang. Jika kelak, Mbak Susi mendapatkan tempat yang lebih layak dari sekarang, itu bukanlah kebetulan. Dan kita tak boleh iri. Itu adalah hasil dari proses panjang, bagaimana sebuah pendidikan abadi yang pernah ditempa keluarga Mbak Susi. Mungkin mereka pernah tidak-dilayakkan, tapi sekarang, mereka layak mendapat kado dari Tuhan.

Dan saya sangat percaya itu akan terjadi. Jika dari kita masih memiliki nurani.

Bahkan kebaikan itu telah mulai berantai dari satu yang lain. Mulai dari kepala sekolah, guru, staf, para alumni, komite, dan orang-orang nyaris tak dikenal sudah mulai membantu. Kekuatan itu muncul tak terduga. Dan saya masih yakin, rantai itu akan terus mengait lagi dari satu sama lain.

Mbak Susi dengan kantinnya. Mbak Susi dengan rumah kecilnya. Sangat mungkin hilang. Sangat mungkin! Atau bahkan diganti dengan sesuatu yang lain. Yang mungkin tempat lebih bagus lagi. Yang mungkin lebih modern lagi.

Mungkin akan terlihat sama. Tapi percayalah, itu tidak sama.


Mei 2018