Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Transaksional

jika ibadah hanya menginginkan sesuatu

dengan cara melakukan sesuatu.


“apakah kau memang—menganggap ibadahmu

sebagai tempat transaksimu?”


kemudian tuhan menangis

dari balik jendela dan teralis kaca.

hujan turun—membasahi ladang dan sari gandum,

bunga-bunga mekar, udara menjadi segar.


tuhan bertanya kembali:

“apakah benar-benar sulit, kau tulus mencintai aku

tanpa ada transaksi di antara ibadahmu?”


april 2022

Hari Pembalasan

Gusti, maafkan kesalahan kami.
Maafkan kesalehan kami
jika memang kami, sering luput
dari kewajiban-kewajiban kami sendiri.

Gusti, ampunilah kami.
Seringkali menjadi tuhan dan menghakimi
kesalahan-kesalahan manusia
hingga lupa terhadap dosa kami sendiri.

Gusti, catatlah kami.
Catatlah kebaikan kami yang cacat ini.
Jika kelak hari pembalasan tiba
setidaknya kami pernah berbuat baik sebentar saja.

Gusti, jika benar surga bukan untuk kami
dan neraka tempat terakhir kami.
Maafkan perkataan dan perbuatan kami yang seringkali
menyakiti sesama hambamu, Gusti.



Februari 2021

Aku Tahu

Aku tahu, kau mencintai langit. Aku tahu, kau mencintai jendela pesawat terbang dan kau diam-diam mengambil gambar dari sana. Aku tahu, kau mencintai matahari tenggelam yang menenggelamkan matamu. Aku tahu, kau mencintai hujan. Aku tahu, kau mencintai awan-awan dan ketinggian.

Aku tahu, kau mencintai maut. Aku tahu, kau mencintai ganggang dan biota laut. Aku tahu, kau mencintai tepian tebing. Aku tahu, kau mencintai sudut dari sana dan melihat laut lepas di depan mata. Aku tahu, kau mencintai laut-laut yang basah. Aku tahu, matamu tiba-tiba menjadi basah tapi itu bukan karena aku.

Aku tahu, kau mencintai museum. Aku tahu, kau mencintai barang-barang yang antik. Aku tahu, kau mencintai kota-kota tua dan klasik. Aku tahu, kau mencintai masa silam. Aku tahu, kau mencintai masa-masa di mana tidak ada masa depan dan kau ingin terjebak di sana. Aku tahu, kau mencintai masa-masa lalumu.

Aku tahu, kau mencintai apa pun—dan itu bukan aku.


2020

Kau

Kau udara bagi nafasku. Kau tulang bagi punggungku.
Kau kuda-kuda bagi pinggangku. Kau kekuatanku.
Kau yang membuatku tersenyum tiba-tiba.

Kau rencanaku. Kau bunga-bunga.
Kau pohon di taman kota.
Kau terus tumbuh dan aku akan merawatmu. Kau adalah wangi itu.

Kau sungai. Kau mata air bagi mata aku.
Kau mata angin. Kau arah dan jalan pulangku.
Kau rumah bagi aku.

Kau semestaku, semestinya —


2020

Aku Putuskan untuk Berhenti Berlari

Masih banyak perihal yang lebih baik untuk kukejar dan kukerjakan: membangun rumah pohon, menyirami bunga, belajar piano, memainkan sexophone, membangun perpustakaan, atau menulis hal-hal yang pernah aku mimpikan ketika sekolah dasar. Sungguh, tak ada yang lebih bodoh membayangkan tokoh fiksi pada film-film favorit kita.

Dunia tak pernah nyata. Kartun adalah imajinasi yang menyelami kita pada rusa terbang, binatang berbicara, atau bintang-bintang yang menjatuhkan diri tiba-tiba. Mata kita tenang, kaki kita menari-nari pada keriangan. Tapi, kau tak tahu—memang, kadang-kadang, ada suatu hal yang tak perlu diceritakan, lalu ada air mata yang meluap kemudian.

Aku lebih ingin tak mengenal kau. Sungguh, tak ada yang baik dari semua yang dipaksakan. Tak ada yang lebih baik dari semua yang aku lakukan: menunggui sesuatu yang tak mungkin ditemui.

Trem melengking dari arah jam tiga. Tak ada tanda-tanda. Orang-orang mengemas diri mereka seperlunya. Bangku kosong. Matahari jatuh pada garis lengkung yang jauh, yang tak pernah kita sentuh. Dan aku masih di situ. Tak ada yang benar-benar aku tunggu.

Sekarang, kita bisa berpulang—dari semua yang telah berpaling.


Januari 2019

Seorang Pendaki dan Sebuah Bukit

Akan ada satu waktu di mana aku
untuk tidak bisa: tidak mencintai kau.

Dan di balik bukit yang berbatu-batu
juga di antara celah lembah hijau itu.

Kutanam ribuan bahasa agar mengakar
terus-menerus menakar doa-doa
yang tercuri dari tanah ini.

Kulantunkan suara paling lembut
menembus rekah kabut, agar dingin
gagal menggigilkan tulangmu.

Sungguh, kita masih terlalu sibuk
menerka-nerka datangnya cahaya.
Tapi, tak ada ketulusan yang abadi
selain kehangatan dari matahari.

Sungguh, jalan-jalan masih saja berkelok.
Hutan, danau, sawah, rawa, dan sabana,
masih menjadi rimba gelap gulita
dan ingatan tak lagi berwarna.

Malam mengapung. Bulan menggantung
di atas kening, di atas sungai yang bening.

Dan doa, seperti keheningan yang berjalan
mengantarku ke dalam rimba tubuhmu:
tempat pulangnya aku.

Kau konsonan yang nyaring itu:
memanggil-manggil dari tebing tinggi
dan sesak wangi yang tak mati-mati.

“Pulanglah, pulanglah, peluklah,” katamu.


Maret 2018

Tentang

Tentang sebuah langit yang cerah. Waktu yang luang. Sapaan hangat. Angin yang pelan. Burung berlarian. Doa-doa yang dibatin. Keinginan yang sederhana. Kewaspadaan seperlunya. Nyali yang mencoba memberanikan diri. Ingatan yang kembali. Tubuh yang mulai utuh. Kepercayaan yang cukup. Harapan yang mungkin.

Tentang sebuah senyuman panjang. Suara yang lembut. Tawa yang riang. Percakapan-percakapan yang tentang bukan kita. Segala hal menjadi asing. Lalu dekat. Mendekat lagi. Lalu kita mendekap. Tak ada yang bicara. Kata-kata telah ditulis dan menjadi kekal. Agar bisa kau baca berulang-ulang dan bertahan hingga bertahun-tahun.

Tentang sebuah sore yang gelap. Luar yang hujan. Air tak kunjung reda. Jendela-jendela basah. Jalanan tergenang. Ranting yang tergantung dan jatuh. Pelangi dari arah barat. Udara yang tenang. Cahaya mulai berpendar. Waktu mulai berpudar. Hidup mulai berputar. Pertemuan yang singkat. Ingin terulang dan terus berulang.

Dan, tentang matamu: tempat yang paling abadi di ingatan aku.



Solo, Maret 2018

Konstelasi

telah kita lewati hari-hari
di mana orang-orang bergegas dan
tak peduli tentang kota yang akan runtuh.

dan kita telah mengepak dengan cukup
tapi, dunia tak akan pernah cakap:
ingatan, kenangan, dan kekecewaan,
lebih dari mustahil untuk ditinggalkan.

"kita telah sampai," kataku.

ruang terhampar luas. sangat luas.
lebih luas daripada harapan
dan kenyataan-kenyataan kita.

lalu malam menyala. bulan purnama.
beethoven berdenting. sungai dan ngarai
menghanyutkan kecemasan kita.
mendamaikan tengkuk kita.

"bintang-bintang akan
satu persatu jatuh. dan runtuh."

duduklah. dekatlah di sampingku.
dekatlah seperti maut yang bersiap
menggodam tubuh dan ruhku.
dekatlah. dekatlah seperti doa-doa
yang tergelincir dari bibir para pendosa.

dan kita saksikan kini:

hujan-hujan yang berjatuhan dari surga
sunyi yang berbunyi dari kanal-kanal air
menghidupi pepohonan, jalanan,
taman bunga, sawah-sawah,
juga tanah yang basah.

dan kita saksikan kini:

tentang maha segalanya
tentang betapa luasnya angkasa raya
tentang cara kerja alam semesta

yang tak pernah menghendaki kita.
tak pernah.


februari 2018

L


Kita tahu. sepenuhnya tahu
lukisan-lukisan di dinding batu itu:
Da Vinci, Sanzio, dan Picasso.

Mereka mahir menggambar
sekaligus membuat kesedihan
menjadi hambar. Tapi di situ

di antara ruang yang masih gelap,
jendela-jendela yang belum terbuka,
di antara pigura dan foto lama.

Ketika cahaya akan menembus kaca,
vas-vas bunga, perjamuan di meja,
hingga porselen dan ornamen.

Ketika pagi masih dingin dan
matahari masih ingin menghangatkan
kau dari kejauhan.

Matamu, membuatku tenggelam
sekali lagi.


Solo, Februari 2018


*terinspirasi lukisan Da Vinci - The Last Supper

Pengharapan

Kau akan selalu ingin menuju jalan yang kau hendaki. Tapi dendam dan penyesalan, masih saja kau tanam dalam diri. Pikiran-pikiran yang semestinya jauh dan tak tersentuh, justru kian tumbuh. Tak bisa diredam, tak bisa lagi dipendam. Tapi kian menjalar di antara terang dan remang: ia yang terbayang. 

Di ujung barat, langit telah bercabang. Sore tak akan lagi sore jika telah menjadi petang. Jalan-jalan semakin gelap. Awan menjadi gulita. Lampu-lampu menyala. Kunang beterbangan. Bintang dan bulan menghiburmu dari kejauhan. 

Kau masih di situ. Senantiasa di situ. Hanya ada sunyi yang tak berbunyi. Lalu angin datang berkelebat menghampiri: menggulung rambutmu, matamu, senyummu, keningmu, wajahmu, jarimu, ragamu, dan juga kekecewaanmu. 


Januari 2018

Masa Depan

Di beranda, kita duduk berdua.

Kita bisa bicara tentang semesta:
lapang langit, nyanyian burung gereja,
juga semua perihal yang kita cinta.

Kita bisa bicara tentang cita-cita:
mendirikan rumah, menyirami bunga,
juga tentang anak-anak dan cucu kita.

Kita bisa bicara tentang masa depan:
pokok-pokok kehidupan yang berisi
segala perihal yang ingin kita miliki.

Tapi, kita telah tahu. Suatu hari
di masa datangnya tua nanti. Tak ada,
tak ada lagi yang bisa kita bicarakan.

Selain pemakaman dan kematian.


Januari 2018

Di Pertempuran

Kita tetap terdampar, meski peta telah terhampar.
Terjebak dalam rumus-rumus yang menjerumuskan
pengetahuan akan dunia yang rumit dan berbelit.

Jika kelak seluruh pengetahuanmu telah gugur
seperti uban yang akan jatuh di penghujung umur.
Kau hanya akan bisa berdoa dan berharap usia
tidak dikepung dalam keserakahan manusia.

Saat orang-orang menginginkan keramahtamahan
dan sangat mengangankan angin yang meneduhkan.
Saat itu juga, kau hanya akan mendapatkan sia-sia
dari sisa-sisa peperangan dan ketamakan manusia.

Meski takdir telah mencatat kita di tempat ini.
Percayalah, kita dipaksa terjebak di sini.


Yogyakarta, Juli 2017

Introvert

Di semesta ini aku bercerita
pada daun-daun, mata bunga,
dan semata masa depan kita.

Barangkali aku, yang tak akan
membunyikan dan yang akan
menyembunyikan segala.

Kelak kau akan mengerti aku
mengapa lebih banyak berdoa
daripada berbicara: kepadamu.

Sebab diam adalah cara baik
dan sebaik-baiknya bicara
kepada entah siapa.

Sebab tak semua kata-kata
akan benar-benar mewakili
apa yang ada dalam diri kita.


Juni 2017

Ruang Tunggu

Terbenam. Langit hanya merah. Mengaburkan segala warna dan prasangka. Bulan kian meninggi dan percakapan-percakapan mulai merendah. Lalu hening. Rindu satu-satunya petualang yang tak pernah tahu jalan pulang. Ia tersesat. Dan berharap, disapa olehmu sesaat. Tetapi, ia hanya keinginan yang takut menjadi duka. Kemudian terbuka. Dan kemudian terluka.

Sepasang kepedihan dan kesepian. Seperti bulan dan bintang yang bercakap tanpa awan-awan. Cuaca tak pernah pasti. Seperti keyakinan. Seperti penantian. Yang sudah kita jalani, telah hilang dan raib di antara hari dan hari. Aku menunggu. Aku menunggu. Dan kau terganggu. Setiap waktu, hingga segalanya telah berlalu. Atau kita: kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah pasti dan yang tak pernah disepakati.


April 2017

Ketidakmampuan

Semesta yang aku kagumi, semestinya hanya matamu. Orang lain hanya kemungkinan-kemungkinan yang tak aku pedulikan. Orang lain hanya bayang-bayang yang tak aku inginkan. Semesta yang aku kagumi, semestinya tetap matamu.

Keinginan telah menyerahkan dirinya kepada lapang langit, atau bintang, atau bulan, atau tempat-tempat yang tak mampu aku jangkau. Kau tahu? Beberapa hal indah memang diciptakan hanya untuk dipandangi, bukan untuk dimiliki.

Semesta yang aku kagumi adalah semata dirimu. Ketidakmampuan lengan menyentuh tempat-tempat yang jauh. Mimpi yang tak pernah mampu. Dan ingin yang hanya sebatas angan.


Maret 2017

Rahasia

Aku ingin merindukanmu. Dan membiarkan kenangan menjadi semata petualang yang tak lelah berjalan. Dari ingatan yang satu ke ingatan yang lain. Dari waktu yang satu ke waktu yang lain. Dari perihal yang satu ke perih yang lain.

Aku ingin merindukanmu. Dengan keinginan-keinginan yang selalu terpendam. Dengan kata-kata yang hanya menjadi diam. Sebab akan kubiarkan rahasia, tetap senantiasa menjaga ketulusannya.

Aku ingin merindukanmu. Percakapan-percakapan yang tak pernah memberanikan diri. Bahasa telah mati. Kata-kata mengenakan ketakutan di mana-mana. Seluruh puisi ini, hanya menjadi kalimat-kalimat yang memimpikan untuk kau pahami.


Solo, Maret 2017

Melawan Kematian












Kota ini begitu mengenalnya.
Bau keringat, lembaran uang,
dan senyuman-senyuman palsu.

Ia selalu ingin cepat pulang
tidur di ranjang, dan memimpikan
hal-hal yang tak akan bisa ia beli.

Atau mimpi, adalah kesenangan
yang paling nyata dan kenyataan
yang sebenarnya tak ada.

Ia percaya, sepenuhnya percaya.
Katanya, kehidupan ini seperti
gerak roda becak tuanya:

kadang di bawah, dan kadang
tidak pernah di atas.


Maret 2017


*pict from google.com

Mengunjungi Yogyakarta

( Malioboro Street, 11 pm. )
Jalan-jalan tak pernah lengang, seperti lengan yang menolak lepas dari pasangan. Sebagian orang berjualan, sebagian lagi berjalan-jalan. Malam mencuri sebagian hidup mereka. Mereka tak suka pulang dan mereka tak tahu harus pulang, ke tubuh siapa.

Di sepanjang trotoar jalan, orang-orang menepi, dan kesedihan mulai merapat. Di dada mereka, ada sesuatu yang selalu dipendam. Sesuatu yang besar dan bahaya. Menjadi rahasia yang ingin diucap, tapi tak ingin diungkap.

Kota ini lumrah dan menerima siapa saja. Bahkan orang-orang asing yang tak mengerti bahasa negara kita. Tak ada kemurnian. Semua orang larut di sepanjang jalan kota ini. Dan semua orang berhasil menyembunyikan kesedihan mereka sendiri.


Yogyakarta, Februari 2017

Mendengarkan Coldplay

Jarum jam di angka enam selalu menolak disebut petang, tapi juga enggan disebut malam. Orang-orang tak peduli apa nama yang tepat, mereka lebih sibuk melarikan diri dari rutinitas kerja dan pulang ke rumah.

Matahari telah tenggelam, di negeri jauh, matahari sedang terbit. Negara sudah tertidur. Awan-awan menjadi hitam, langit menjadi padam. Bulan dan bintang menjadi lampu kamar yang tak pernah mati.

Dan masa lalu, gemar mengunjungimu. Kadang sebagai tamu, atau sebuah film yang tak bosan kau putar setiap malam. Berulang-ulang. Berkali-kali. Ia sesuatu yang menolak engkau lupakan. Dan kelak, menjadi sesuatu yang engkau luapkan. Dari matamu.


Semarang, Februari 2017